Harapan Evan
Opini tentang karir sepak bola Evan Dimas

Harapan dari, bukan untuk.
Gelora Bung Karno, 2013. Korea Selatan. Hwang Hee Chan.
Rizal Memorial, 2019. Vietnam. Doan Van Hau.
Hargianto, Zulfiandi dan ya Evan Dimas.
…
Mari Bernostalgia
Generasi Evan Dimas tampil layaknya secercah pelita di ujung lorong gelap carut marutnya persepakbolaan nasional kala itu. Mulai dari dualisme kompetisi, federasi hingga klub pun tidak luput dari cengkraman dualisme. Dari salah satu titik nadir tersebut, Indra Sjafri dan timnya butuh “blusukan” untuk mengumpulkan talenta-talenta muda terbaik Tanah Air dan berhasil menampilkan permainan indah “Pepepa”.
Pendek-pendek-panjang. Timnas U-19 bermain layaknya Barcelona kala itu. Sebuah tim yang merajai Eropa dan membuat fans menyembah skema permainan mereka. Umpan pendek dari kaki-kaki ditunjang oleh dua bek sayap kuat dan winger yang khas Indonesia. Ilham Udin dan Maldini Pali piawai dalam melakukan penetrasi lalu mengirimkan umpan cut back ke lini kedua yang diisi oleh trio lini tengah Indonesia. Hargianto, Zulfiandi dan Evan Dimas merupakan suatu kesatuan utuh yang memperkuat satu sama lain. Hargianto punya tugas untuk menghentikan aliran bola lawan, Zulfiandi menjadi jembatan di depannya dengan teknik ala Sergio Busquets, dan satu lagi Evan Dimas.
Di awal kemunculannya, Evan bermain dekat dengan kotak penalti untuk menjadi konduktor serangan Timnas. Sebuah peran yang memunculkan kemampuan terbaik dari Evan. Tidak heran jika ia mengidolakan Andres Iniesta karena gaya bermainnya pun mirip dengan maestro asal Spanyol tersebut. Visi, pemahaman ruang dan umpan-umpannya pun sangat memanjakan mata dan teman setimnya. Ketenangannya di depan gawang juga bukan kelas kacangan.
Berawal di Sidoarjo dan meledak di Gelora Bung Karno. Hegemoni Timnas U-19 menyebar layaknya virus. Rasanya, generasi Evan lah yang menjadi titik balik akan perhatian fans sepakbola nasional untuk timnas kelompok umur. Juara AFF U-19 2013 berhasil direngkuh dan mereka pun lolos ke Piala Asia U-19 2014. Tidak hanya tentang hasil, tapi juga proses dan cara bermain Garuda Muda lah yang mampu menarik animo fans Timnas saat itu.
Puncaknya di Gelora Bung Karno. Di tengah guyuran hujan deras, Timnas U-19 berhasil mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3- 2. Evan Dimas bintangnya. Ia mencetak hattrick dengan gaya khasnya. Hadir dari lini kedua, lalu melepaskan finishing mendatar dengan kedua kakinya. Usianya baru menginjak 18 tahun ketika itu. Itu puncaknya, karena setelah itu semua terjun bebas.
Setidaknya, itulah yang ada di kepala banyak fans sepakbola nasional.
Pemegang Caps Terbanyak
Di antara rekan-rekannya di Timnas U-19 2013-2014, Evan Dimas mengecap caps Timnas senior terbanyak dengan tampil 43 kali. Itu dua kali lebih banyak dari Hansamu Yama yang “hanya” tampil 19 kali dengan Timnas dan berada di posisi kedua terbanyak.

Evan sudah berpartisipasi dalam banyak laga internasional mulai dari Piala AFF, Kualifikasi Piala Asia, Kualifikasi Piala Dunia, SEA Games dan pertandingan persahabatan lainnya. Dari ajang-ajang tersebut, ia mencetak 8 gol dan 3 assist. Tidak buruk untuk seorang gelandang tengah.
Salah satu gol luar biasa dari Evan Dimas adalah saat melawan Vanuatu. Dengan tendangan voli dari luar kotak penalti, ia berhasil mengubah umpan dari Riko Simanjuntak menjadi sebuah sepakan berteknik tinggi nan powerful.
Ada tema menarik dari gol-gol yang ia ciptakan. Pergerakannya sebagai gelandang untuk masuk di kotak penalti di saat-saat terakhir atau biasa disebut box-crashing midfielder. Ia mengendus ruang kosong dan kesempatan mencetak gol baik dari second ball maupun dari umpan lawan. Dengan positioning yang baik, Evan melakukan finishing dengan teknik tinggi yang ia miliki. Ini semua tampak dari golnya di Selangor dan saat melawan Chinese Taipei dan Thailand.
Pemain Berpengalaman di Liga
Sejak musim 2015/2016, Evan bermain sebanyak 9.942 menit dan bisa dikategorikan di atas rata-rata kawan setimnya di Timnas U-19 dulu. Di antara para gelandang tengah, menit bermainnya nomor 3 teratas setelah Paulo Sitanggang dan M Hargianto. Menit bermain terbanyak justru dibukukan oleh Ricky Fajrin, seorang bek kiri yang ditemukan saat Tur Nusantara. Ia bermain sebanyak 20.936 menit dan hanya pada 1 klub yaitu Bali United.

Menariknya, 3 besar pemain dengan menit bermain tertinggi hanya bermain di paling banyak 3 klub berbeda. Ricky Fajrin memberikan segalanya untuk Bali United, Putu Gede untuk Bhayangkara & Persib, lalu Septian David untuk Mitra Kukar, PSIS Semarang dan Malut United.

Meskipun tentu saja bermain di satu klub tidak lantas menjamin tingginya menit bermain. Di antara pemain dengan 7 klub atau lebih, Evan Dimas ada di urutan kedua tertinggi setelah Paulo Sitanggang. Contoh ekstrim dari pemain dengan banyak klub tapi tidak terlalu banyak bermain adalah Yanto Basna yang kerap kali dilanda cedera.

Selama berkarir di klub, Evan berhasil mencetak 13 gol & 10 assist. Ia paling produktif dibandingkan gelandang-gelandang lainnya. Hargianto yang paling dekat dengan Evan dengan 11 gol namun dengan jumlah assist lebih banyak (17). Lalu Paulo Sitanggang berhasil menyarangkan 10 gol diikuti dengan 6 assist.
Salah satu gol yang paling sering muncul di kepala adalah golnya saat melawan Bhayangkara FC di musim 2020. Lagi-lagi Evan mencetak gol indah melalui tendangan half volley dari luar kotak penalti. Timingnya pas dan tekniknya sangat baik hingga membuat bola meluncur ke arah kiri penjaga gawang.
Dari kacamata statistik, output terbaik Evan Dimas mungkin ada di musim 2018/2019 saat membela Barito Putera. Kualitas passingnya ada di level elit Liga 1 terutama untuk jarak pendek dan menengah. Akurasi umpan jauh pun ada di atas rata-rata. Akurasi passing tinggi yang ia tunjukkan tidak untuk berputar-putar ataupun banyak backpass, ia sangat progresif saat membagi bola. Evan juga masih sering dribbling bola melewati lawan. Benar-benar sebuah output yang mengindikasikan seorang gelandang kreatif.

Namun setelah itu Evan Dimas seakan menurun produktivitasnya, tapi kenapa?
Semakin Menjauhi Kotak Penalti
Dari awal karirnya hingga hari ini, Evan Dimas sudah sering menempati semua pos di lini tengah mulai dari gelandang serang hingga gelandang bertahan dengan porsi relatif hampir sama. Ia paling produktif saat bermain menjadi gelandang serang. Sebuah indikasi bahwa dia dapat “mencium” hadirnya peluang. Lalu saat menjadi gelandang bertahan, ia bisa melepaskan assist paling banyak (6). Ini banyak lewat kemampuan passing dan visi Evan yang memang kelas wahid.

Namun semenjak 2018/19, Evan semakin jarang bermain sebagai gelandang serang. Ia diberi peran untuk mengatur tempo dari belakang. Evan berasa seperti dijauhkan dari daerah yang membuatnya berbahaya yaitu kotak penalti. Visi bermainnya sangat baik sehingga dia bisa nyaman melakukan kedua peran tersebut dengan sama baiknya.

Ia direnggut dari posisi dan peran terbaiknya. Seorang gelandang serang yang bertugas untuk menciptakan peluang lewat passing-passing brilian maupun akselerasi ke ruang kosong. Gaya bermainnya ditarik lebih ke belakang dengan tujuan untuk melepaskan timnya dari pressing lawan ataupun untuk melakukan direct switch play lewat umpan panjang jempolan miliknya.
Sejak saat itu, Evan Dimas tak lagi sama.
Harapan Evan
Pada interview bersama wartawan Jawa Pos beberapa minggu yang lalu, Evan mengungkapkan keinginannya untuk mendidik generasi muda melalui sepak bola. Mungkin, waktu yang ia berikan untuk bermain sepak bola sudah mencapai ujungnya. Ia kini mengusung mimpi dan harapan baru untuk generasi sesudahnya. Sebuah mimpi mulia.
Hanya Evan yang tahu apakah ia sudah merasa cukup atau tidak dengan karirnya sebagai pemain sepak bola. Comparison kills, kata orang. Tidak perlu rasanya membanding-bandingkan karirnya dengan karir Hwang Hee Chan yang masih melanglang jauh di Inggris Raya. Atau mungkin Ricky Kambuaya, salah satu penonton Timnas U-19 era Evan namun malah jadi tulang punggung Timnas saat ini. Evan hanya perlu membandingkan dengan mimpinya dulu. Sudah cukup kah?
Boleh saja sebagai fans berimajinasi bahwa Evan masih ada dan menjadi tulang punggung lini tengah Timnas Garuda. Berduet dengan Thom Haye maupun Joey Pelupessy, memberi umpan terobosan kepada Ole Romeny, Miliano Jonathan atau bahkan Yakob Sayuri. Faktanya, Evan pernah menjadi tulang punggung Timnas, meskipun sudah tidak lagi.
Sebagai fans, alangkah baiknya menghormati keputusan Evan tanpa pertanyaan imajinatif, “Bagaimana jika?”. Toh, Evan dan generasinya sudah melakukan yang mereka bisa. Saatnya mendukung apapun yang ingin mereka lakukan di masa depan.
Generasi mereka lah yang menggugah kembali gegap gempita suporter sepak bola. Mereka berhasil membuat 10 kata ini bernyawa meskipun tanpa suara.
“Masih Ilham Udin, Ilham Udin kepada Muchlis, Evan Dimaass, Goolllll!!!!”
Matur suwun, Cak! Lupakan harapan orang lain terhadapmu, wujudkan pengharapanmu untuk diri sendiri. Wani!
Dari Tepi,
6 Oktober 2025
Tautan Penting:
1. Wawancara Evan & Jawa Pos
2. Transfermarkt Data
3. Player’s Pizza Chart
Key Metrics · per 90
Baca Juga
Kontrol Milik Siapa?
Match Review Bhayangkara vs Persebaya - Pekan 1 BRI Super League 2026/27
QA: Viz Image Upload Test
Verifies an uploaded vizImage renders full-size and uncropped on the Data Viz detail page.
QA: Tableau Embed Test
Verifies a Tableau Public embed renders as a sandboxed iframe on the Data Viz detail page.